Powered By Blogger

selamat datang ...

Dengan senang hati saya mengucapkan selamat datang dan semoga apa yang anda temukan di sini hari ini bisa menjadi suatu inspirasi buat kita semua. Dan sukses itu diawali dari sebuah inspirasi

Rabu, 04 Mei 2011

Gundah

Ketika rasa gundah itu tiba.............

entah dari mana dia merasuk...........

merubah semua warna ......... menjadi pudar

seakan tiada cahaya...

yang lepas menembus..........

Namun....

ketika kudamba sebuah cinta....

setiap warna semakin tegas..........

memberi nuansa yang begitu indah..

rona demi rona memancar cerah.....

Ternyata.....

Gundah itu adalah pertanda.....

manakala rasa cinta mendekat..

dan mendekap angan melayang....

menerawang ......

ke alam khayal ...........

Dan....

Memang benar.... benar nyata

disana terdapat berjuta rasa..

tebaran benih asmara dan bunga cinta

menghampar sejauh mata memandang.....

Alangkah indahnya..... warna-warna

begitu semerbak wewangian dewa dewi....

Disaat kutatap setangkai bunga ...

warna merah muda menyala.......

harum mewangi merasuk ke relung hati.....

namun ketika jarak semakin dekat...

Dadaku terasa sesak... lidahku kelu...

ternyata dadaku tertembus....

dihujam panah asmara..........

dan aku menjadi GUNDAH

Sepenggal Cerita suatu malam : untuk sebuah renungan



Malam baru saja menjelang, germericik hujan masih terdengar di luar. Sepanjang hari hujan mengguyur tidak ada hentinya, walau kadang reda sebentar namun hujan turun lagi. Jalanan mulai penuh dengan air, karena lobang-lobang yang ada sudah lama tidak diperbaiki, sehingga apabila hujan datang, air menggenang, mulai dari lubang yang kecil sampai yang separuh jalan tergenang dan jadi kubangan.
Kaki kecil itu terus berjalan, menembus pekatnya malam yang mulai gelap. Sesekali berhenti jalannya, karena sandal jepit yang dipakainya lepas. Badannya mulai menggigil, karena seluruh tubuhnya basah kuyup, telapak tangannyapun mulai keriput. Rambutnya yang panjang, sekali-kali dikibasnya karena menutupi wajahnya, rambut itu menempel di wajahnya yang basah karena air hujan. Sambil memilih jalan yang tidak digenangi air, gadis kecil itu berjalan dengan langkah yang pendek, kadang loncat menghindari lubang yang besar. Wajahnya mulai pucat karena kedinginan. Namun, tiba-tiba hujan jadi membesar, petirpun mulai terdengar. Langkah si kecil semakin cepat karena takut mendengar suara petir yang keras. Dia jadi teringat cerita dari temannya bahwa pernah ada yang meninggal disambar oleh petir. Hatinya menjadi ciut, setengah berlari dia berjalan dengan rasa takut dalam gelapnya malam. Bunyi sandal jepitnya semakin keras, keras dan keras terdengar, karena dia berlari ketakutan, bayangan cerita hantu yang meninggal karena petir terbayang dipikirannya. Semakin kencang larinya, sandalnya dia lepas dan dijinjing supaya tidak susah berlari. Karena gelapnya malam dan genangan air yang menutupi jalan, sehingga jalan tidak kelihatan lagi antara yang berlobang dan yang tidak. Tiba-tiba.. bluuk… byaaaarrr. Si kecil jatuh tersungkur, karena kakinya menginjak lobang dalam yang digenangi air sehingga tidak kelihatan, kantong plastik yang dibawanya terlempar, dan sandal yang dipegangnya juga lepas…., dia tidak sadarkan diri. Karena kepalanya terbentur batu yang menonjol.
Jalanan sunyi, sepi, semua orang lebih memilih diam di dalam rumah enggan keluar karena hujan dan dinginya malam. Sementara si gadis kecil tergeletak di jalanan sendiri, wajahnya pucat pasi, pakaiannya jadi kotor, rambutnya penuh lumpur, karena dia tak sadarkan diri selama 1 jam, 1 jam dia terkapar ditengah jalan, dengan diguyur air hujan, dalam gelapnya malam, tidak ada seorangpun yang melihatnya, bahkan tak satupun binatang mengganggu si gadis kecil itu, padahal kalau hujan seperti itu, binatang berbisa suka keluar, tapi dengan segala kekuasaan dan kebesaran Allah SWT, si gadis kecil itu dilindungi, dijaga… sampai terbangun dan siuman. Sesaat dia kaget dan heran kenapa dia berada di tengah kegelapan, dan dalam keadaan badan yang setengah kaku, namun tak begitu lama perlahan-lahan dia sadar, berada dimana dan kenapa dia…. Dia berusaha terus untuk mengingat kejadian sebelumnya, dia berusaha bangun, namun begitu dia mau berdiri tiba-tiba gak bisa menggerakkan kakinya. Kakinya terkilir saat terjatuh menginjak lobang. Dan, dengan ketegaran, tanpa mencucurkan air mata dan isakan tangis gadis ini, berdoa sungguh sangat mengharukan, apabila ada yang melihat kejadian tersebut, dia menyeru Tuhan meminta pertolongan dari-Nya. Dan hanya itulah warisan yang sangat berharga yang diberikan dari bunda tercinta, bahwa hanya Tuhan lah yang bisa menolong kita dari segala cobaan, berdoa dan menjalankan segala perintah serta menjauhi larangan-Nya. Si gadis kecil ini selalu mengingat pesan ibunya itu… sehingga sekarangpun dalam keadaan seperti ini dia hanya mengeluh dan meminta kepada Tuhan… dia tidak berteriak minta tolong, dia hanya merintih, memilukan apabila menyaksikan kejadian yang menimpa dia. Dia mengaduh kesakitan, dia sudah tidak bisa menangis lagi…..
Karena air matanya sudah habis, dan dia sudah tidak merasakan apa-apa lagi kecuali rasa kehilangan yang mendalam, yang dialami gadis kecil seumur dia. Dia harus menyimpan rasa sedih, rasa nelangsa, rasa ditinggalkan orang yang paling dia sayangi, orang yang selama ini selalu melindungi, orang yang menghangatkan dengan pelukan sayangnya, orang yang selalu setia menemani dan sabar mengajari menulis dan membaca, … Ibu, Ibuuu, aku jatuh dan gak bisa berdiri lagi, kenapa kakiku ibu……. Teriakan dan jeritan bathin gadil cilik itu sungguh memilukan dan menyayat hati apabila ada yang mendengar.
Namun malam semakin sepi, sunyi, gelapnya seolah menelan semua yang ada di bumi malam itu. Si gadis kecil meratap pelan. Biasanya apabila dia jatuh sedikit saja, ibunya selalu ada untuk membantu berdiri, tapi kini …. Si gadis kecil ini jatuh dengan kaki yang keseleo, dalam gelapnya malam serta diguyur hujan… sendirian, dia harus berusaha sendiri, dia ingat hanya Allah SWT yang bisa menolong dia kini, tak terasa air matanya yang tadi dah kering kini meleleh kembali…, dia berdoa kepada Tuhan, dengan bahasa anak usia 9 tahun dia mohon kepada Tuhan, “Ya Allah … katanya Engkau mau menolong, tapi kenapa aku sekarang sendirian? Tolonglah aku ya Allah, tolong, karena ibuku sudah tidak ada lagi, sudah mati, jadi sekarang tolonglah aku”, begitulah do’anya si gadis kecil ini. Dia berusaha bangkit namun kakinya tetap gak bisa digerakan, lalu dia teringat akan kantong plastik yang dibawa tadi, dan sandal yang dia lepas.. dia masih teringat itu. Ia berusaha menyeret kakinya, dalam kegelapan malam, dia meraba-raba, walaupun dalam keadaan gelap, matanya melirik kesana kemari seolah bisa menembus kegelapan. Tangannya meraba-raba dan menyentuh sesuatu dan dia hapal betul, apa yang dia pegang, ada seulas senyum dari bibirnya setelah memegang benda itu, lalu dipeluknya bungkusan itu. Ternyata bungkusan yang dia pegang erat sebelum dia terjatuh.
Hujan masih turun walaupun gerimis, binatang malam yang biasanya ramai, mendadak menjadi sepi, mungkin merekapun enggan hujan-hujanan. Terkadang ada angin yang bertiup, menambah kencang air hujan menerpa si gadis kecil. Dalam kegelapan malam dan hujan yang masih mengguyur, dia berusaha bangkit, namun sekali lagi dia tidak bisa mengangkat kakinya yang sebelah. Tiba-tiba tanpa dia duga tangannya menyentuh sebatang bambu yang hanyut terbawa air hujan, tanpa pikir panjang lagi dia raih batang bambu yang hanyut itu, dia pegang dengan kedua belah tangannya dan dijadikan sebagai tumpuan, perlahan bangkit dan berdiri, dengan bantuan bambu itu dia berjalan menggusur sebelah kakinya yang mati rasa. Dengan tertatih-tatih dia berusaha berjalan menembus malam pekat menuju tempat tujuan.
Kebesaran Allah SWT yang tidak bisa kita jangkau dengan akal manusia, satu jam si gadis kecil tertatih-tatih dalam kegelapan, akhirnya dia sampai di suatu tempat….., sebuah gubug kayu yang beratap rumbia dan kardus serta plastik, begitu dia sampai di depan pintunya… dia rebah di situ karena kehabisan tenaga.. dan sekali lagi pingsan…, dia pingsan lagi… tanpa ada seorangpun yang tahu apa yang dialami si gadis kecil itu…
Matahari bersinar cerah di pagi hari itu, karena semalam awan yang menggayut telah turun tanpa tersisa. Langit begitu cerah menyambut sang mentari. Burung-burungpun riang bernyanyi di pagi itu, seolah tidak ada kejadian apa-apa semalam.
Padahal di sebuah gubug yang hampir rubuh, terbujur seorang anak gadis kecil, tubuhnya lusuh…kotor, digenggamannya ada sebuah bungkusan plastik yang dipegang erat, isinya adalah selembar kain… hanya selembar kain peninggalan ibunya. Wajahnya pucat…….. dan tak seorangpun tahu kenapa dia ada di situ.

Itulah salah satu garis pinggir dari sisi kehidupan di sekililing kita............

Bogor